TEORI KEPRIBADIAN MENURUT THEODORE MILLON


TEORI KEPRIBADIAN MENURUT THEODORE MILLON

 

 

THEODORE MILLON

 

     1.      Gangguan Kepribadian Skizoid (Schizoid Personality Disorder)

 

Isolasi sosial adalah ciri utama dari gangguan ini. Sering kali digambarkan sebagai penyendiri atau eksentrik, orang dengan kepribadian skizoid kehilangan minat pada hubungan social. Emosi dari orang yang berkepribadian skizoid tampak dangkal atau tumpul, namun pada derajat yang lebih rendah disbanding skizofrenia. Orang dengan gangguan ini jarang mengalami marah, senang atau kebahagiaan yang mendalam. Mereka tampak jauh menjaga jarak. Wajah mereka cenderung tidak menampilkan ekspresi emosional, mereka jarang bertukar senyum, salam, atapun hanya sekedar anggukan kepala kepada orang lain. Mereka tampak tidak terpengaruh pada kritik atau pujian dan tampak terbungkus dalam ide-ide abstrak daripada dalam pikiran mengenai manusia. Pola kepribadian schizoid umumnya dapat dikenali saat masa awal dewasa. Pria yang menderita gangguan ini jarang berkencan dengan wanita atau menikah. Perempuan dengan gangguan ini cenderung menerima ajakan romantis secara pasif dan menikah, namun mereka jarang berinisiatif untuk membina hubungan atau untuk mengembangkan hubungan yang kuat dengan pasangan mereka.

Contoh Kasus :

John seorang pensiunan berusia 50tahun, mencari penanganan selama beberapa minggu setelah anjingnya tertabrak dan mati. John merasa sedih dan lelah. Ia menjadi sulit berkonssentrasi dan sulit tidur. Ia tinggal sendiri dan lebih senang sendirian, membatasi kontak dengan orang lain dan hanya mengatakan “halo” dan “apa kabar?” sambil terus berlalu. Ia merasa percakapan social hanya membuang-buang waktu dan merasa canggung bila ada prang lain yang mencoba membina persahabatan dengannya. Meski ia hobi membaca surat kabar dan tetap mengikuti perkembangan dari peristiwa terkini, ia tidak memiliki minat yang nyata terhadap manusia. Ia bekerja sebagai penjaga keamanan dan digambarkan rekan kerjanya sebagai “penyendiri” dan “ikan yang dingin”. Satu-satunya hubungan yang ia miliki adalah dengan anjingnya, kerena ia merasa dapat berbagi perasaan yang lebih sensitif dan lebih hangat daripada ia berbagi dengan orang lain. Saat natal ia akan bertukar kado dengan anjingnya, membeli hadiah untuk anjingnya dan membungkus sebotol scoth untuk dirinya sendiri sebagai hadiah dari binatang tersebut. Satu-satunya peristiwa yang membuatnya sedih adalah saat ia kehilangan anjingnya. Sebaliknya, kehilangan orang tua nya tidak mampu membangkitkan suatu respon emosional. Ia merasa dirinya berbeda dari orang lain dan bingung dengan adanya emosionalitas yang ia lihat pada orang lain.

 

2.      Gangguan Kepribadian Skizotipal (Schizotypal Personality Disorder)

 

Gangguan ini umumnya menjadi jelas saat awal masa dewasa. Diagnosis tersebut dikenakan pada orang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan dekat dan yang perilakunya, sikapnya, serta pola pikirnya aneh atau ganjil, namun tidak cukup terganggu untuk dapat didiagnosis skizofrenia.

Gangguan ini ditandai oleh bentuk-bentuk berpikir dan memahami dengan cara yang aneh, dan individu dengan gangguan ini sering mencari isolasi dari orang lain. Mereka kadang-kadang percaya untuk memiliki kemampuan indra yang ekstra atau kegiatan yang tidak berhubungan dengan mereka dalam beberapa cara penting. Mereka umumnya berperilaku eksentrik dan sulit berkonsentrasi untuk waktu yang lama. pidato mereka sering lebih rumit dan sulit untuk diikuti.

Gejala Personality Disorder Schizotypal :

1.      Aneh atau tingkah laku atau penampilan eksentrik

2.      Bertakhyul atau sibuk dengan fenomena paranormal

3.      Sulit untuk mengikuti pola bicara

4.      Perasaan cemas dalam situasi sosial

5.      Kecurigaan dan paranoia

6.      Suka berpikir menganai kepercayaan aneh atau magis

7.      Nampak pemalu, suka menyendiri, atau menarik diri dari orang lain

 

Contoh Kasus:

Jonathan, meklanik mobil berusia 27 tahun. Memiliki sedikit teman dan lebih memilih membaca novel fiksi ilmiah daripada bersosialisasi dengan orang lain. Ia jarang bergabung dan bercakap-cakap dengan orang lain. Suatu saat, ia tampak seperti hanyut dalam pikirannya sendiri, dan rekan kerjanya harus bersiul untuk mendapatkan perhatiannya saat ia sedang mengerjakan sebuah mobil. Ia sering menunjukkan ekspresi ganjil diwajahnya. Mungkin cirri perilaku yang paling tidak umum adalah ia melaporkan pengalaman yang dating sewaktu-waktu dan perasaan bahwa almarhum ibunya berdiri di dekatnya. Ilusi ini menenangkan baginya, dan ia menantikan terjadi peristiwa itu. Ia menyadari hal itu tidak nyata. Ia tidak pernah mencoba menyentuh roh tersebut, mengetahui bahwa roh itui akan menghilang begitu ia mendekat.

 

        3.      Gangguan Kepribadian Menghindar

 

Diperkirakan sekitar 1%-2% populasi dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan kepribadian ini hampir sama dengan Fobia Sosial, yaitu ketakutan akan dihina dan perasaan rendah diri. Perbedaannya yaitu jika Fobia Sosial takut akan suasana sosial, sedangkan Gangguan Kepribadian Menghindar takut pada hubungan sosial yang dekat.

Tanda–tanda Gangguan Kepribadian  Menghindar, yaitu:

  • Perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasif.
  • Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain.
  • Kekhawatiran yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi sosial.
  • Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai.
  • Pembatasan gaya hidup karena alasan kemampuan fisik.
  • Menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.

Psikodinamika Gangguan Kepribadian Menghindar

Karena disebabkan oleh hal yang sama, gangguan kepribadian  ini secara tidak langsung dihubungkan dengan Gangguan Cemas . Seperti awal traumatisnya, kondisi ketakutannya, keyakinan yang terganggu, dan abnormalitas neurotransmiternya.

Para ahli psikodinamika memfokuskan pada perasaan malu yang dimulai dari pengalaman awal pada “toilet training”. Penyebabnya adalah perilaku kasar dan penolakan pada awal masa kanak yang mengarahkan pada perasaan bahwa orang lain selalu menghakiminya dengan kasar.

Pengobatan Gangguan Kepribadian Menghindar

Terapi yang digunakan pada gangguan ini adalah terapi kognitif dan terapi perilaku. Juga bisa digunakan terapi obat dan terapi kelompok. Kesulitan awal dari terapi adalah adanya usaha menghindar penderita dari terapistnya.

 

     4.      Gangguan Kepribadian Dependent

 

Gangguan kepribadian dependent adalah suatu gangguan kepribadian yang melibatkan seseorang yang memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk diasuh oleh orang lain. Hal ini membuat mereka menjadi sangat patuh dan melekat dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Orang dengan gangguan ini mersa sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Mereka mencari saran dalam membuat keputusan yang paling kecil sekalipun. Anak-anak atau remaja dengan masalah ini mencari orang tua mereka untuk memilihkan pakaian, makanan, sekolah atau kampus, bahkan teman-teman mereka. Orang dewasa dengan gangguan ini membiarkan orang lain mengambil keputusan untuk mereka. Kadang mereka begitu dependen pada orang lain dalam membuat keputusan sampai mereka membiarkan orang tua mereka menentukan dengan siapa mereka akan menikah.

Setelah menikah, orang dengan gangguan kepribadian dependen akan bergantung pada pasangannya untuk membuat keputusan seperti di mana mereka akan tinggal, tetangga mana yang bisa dijadikan teman, bagaimana mereka harus mendisiplinkan anak, pekerjaan seperti apa yang harus mereka ambil, atau ke mana sebaiknya mereka pergi berlibur. Individu dengan gangguan kepribadian dependen menhindari posisi bertanggung jawab. Mereka menolak tantangan dan promosi serta bekerja dibawah potensi mereka. Mereka cenderung sangat sensitive dalam menerima kritikan serta terpaku pada rasa takut akan penolakan, mereka sering menomorduakan keinginan untuk menjalani hidup sendiri. Mereka setuju akan pernyataan aneh tentang diri mereka sendiri dan melakukan hal-hal yang merendahkan diri untuk menyenangkan orang lain.

Diagnosa dengan gangguan kepribadian sering kali ditemukan pada perempuan meskipun tidak jelas akan adanya perbedaan mendasar dalam prevalensi gangguan antara laki-laki dan perempuan. Gangguan ini juga dikaitkan dengan gangguan psikologis lainnya termasuk depresi mayor, gangguan bipolar dan fobia social serta dengan masalah-masalah fisik seperti hipertensi, kanker, dan gangguan gastrointestinal seperti ulcer dan kolitis. Orang dengan gangguan kepribadian dependen sering mengatribusikan masalah mereka dengan penyebab fisik dan bukan emosional serta mencari dukungan dan saran dari ahli-ahli medis dan bukan psikolog atau konselor.

 

     5.      Gangguan Kepribadian Histrionik

 

Histrionic Personality Disorder adalah salah satu dari personality disorder, dan merupakan sub (turunan) dari dramatic personality disorders (b class). Secara harfiah, histrionic diambil dari bahasa latin, “Histrionicus” yang berarti ‘pertaining to be an actor’.

                        Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV-R), Histrionik dianggap sebagai sebuah gangguan kepribadian (Histrionic Personality Disorder = HISTRIONIK PERSONALITY DISORDER), yang didefinisikan sebagai sebuah pola emosi yang berlebihan dan kebiasaan mencari perhatian, termasuk kebutuhan akan persetujuan/pembenaran dan biasanya dimulai pada awal masa dewasa. Gangguan ini biasanya mulai terdiagnosa ketika sikap-sikap ini menjadi bersifat menetap dan sangat menyusahkan.

Selain itu, Durrand dan Barlow (2006) menjelaskan histrionik sebagai gangguan kepribadian dengan ciri-ciri terlalu dramatis dan tampak seperti orang yang baru berakting, sehingga digunakan juga istilah histrionic treatical.

                        Histrionik termasuk dalam gangguan kepribadian kluster B (dramatis, emosional atau eratis) yang melibatkan pola emosialitas yang eksesif dan suka mencari perhatian.

                        Penderita gangguan histronik cenderung mengekspresikan emosi-emosiny asecara berlebih-lebihan, misalnya memeluk seseorang yang baru dikenal atau menangis tak terkontrol saat menonton filem cengeng (Pfohl, 1995). Mereka juga congkak, self centered, dan merasa tidak nyaman bila tidak menjadi pusat perhatian. Penampilan dan perilakunya seringkali tampak menggoda, dan mereka biasanya sangat peduli pada penampilannya (pat, misalnya, membelanjakan banyak uang untuk membeli perhiasan mahal dan menceritakannya kepada semua orang yang mau mendengarkan). Selain tiu mereka secara konstan mencari kepastian dan persetujuan dari orang lain dan bisa menjadi gusar atau marah bila oranglain tidak memperhatikan atau memberikan pujian kepadanya. Penderita gangguan kepribadian histrionik juga cenderung impulsif dan memiliki banyak kesulitan untuk menunda pujian.

                        Cognitif style yang terkait dengan gangguan kepribadian histrinik adalah impresionistik (Shapiro, 1965) yang ditandai oleh adanya kecenderungan untuk melihat berbagai situasi secara global, hitam putih. Pembicaraannya sering tidak jelas, kurang mengandung deteil dan ditandai dengan hiperbola (Pfohl, 1991) sebagai contoh, ketika ditanyai tentang kencannya kemaren malem, pat meungkin akan mengatakan “pokoknya asyik” tetapi tidak dapat memberikan keterangan terperinci. Tinggiinya angka diagnosis gangguan ini dikalangan perempuan bila dibandingkan laki-laki memunculkan pertanyaan tentang sifat gangguan ini dan kriteria diagnostiknya.

Terdapat sebagian orang pihak yang berpikir bahwa fitur-fitur gangguan kepribadian histrionik, seperti over dramatisasi, kesombongan, sifat menggoda dan kepedulian yang berlebihan terhadap penampilan fisik sebenarnya merupakan ciri-ciri stereotipikal perempuan barat dan ini bisa menghasilkan overdiagnosis di kalangan perempuan. Sprock (2000) menela’ah pertanyaan penting ini dan menemukan beberapa bukti tentang adanya bias dikalangan psikolog dan psikiater yang lebih mengaitkan diagnostiknya dengan perempuan daripada dengan laki-laki.

 

Gangguan kepribadian dikodekan dalam aksis II menurut DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) dan membaginya menjadi tiga kelompok:

1.      Kelompok A : Orang yang dianggap aneh atau eksentrik.

–  Gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal.

2.      Kelompok B : Orang dengan perilaku terlalu dramatik, emosional, atau eratik.

– Gangguan kepribadian antisosial, ambang, histrionik, dan narsistik.

3. Kelompok C : Orang yang sering kali tampak cemas atau ketakutan.

– Gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan obsesif-kompulsif.

 

Etiologi gangguan kepribadian histrionik

Gangguan ini dijelaskan berdasarkan pendekatan psikoanalisa. Perilaku emosional dan ketidaksenonohan secara seksual didorong oleh ketidaksenonohan orang tua, terutama ayah terhadap anak perempuannya. Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara untuk mempertahankan diri dari perasaan yang sebenarnya yaitu self-esteem yang rendah.

 

Perspektif Psikososial Mengenai Histrionic Personality Disorder

a)      Psikodinamik

Para ahli psikodinamika melihat gangguan ini sebagai hasil dari kebutuhan-kebutuhan akan ketergantungan yang sangat mendalam dan merupakan represi-represi dri emosi, hambatan dari resolusi setiap tahap oral atau oedipal. Pencarian atensi berasal dari kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain. Kedangkalan berpikir dan kedangkalan keterlibatan emosi dengan orang lain mnggambarkan orang-orang histerionik yang merepresi kebutuhn-kebutuhab dan perasann-perasannnya sendiri.

b)      Behavioral

Orang denga tipe histerionik biasanya berasal dari kelurga yang memanjakan dan membiarkan sifat manjanya hingga dewasa (being daddy’s “pretty little girl”). Hal ini manjadi suatu pembiasaan sehingga terbentuk karakter yang menetap mengenai sifat manja dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Selain itu, biasanya, dalam keluarga tabu untuk mendidik atau mengenalkan. masalah sex. Selain itu, ada pndapat lain yaitu ketika masa kanak mengalami hubungan dengan orang tua yang tidak harmonis sehingga kehilangan rasa cinta. Lalu untuk mempertahankan ketakutan akan kehilangan yang sangat, dia bereaksi secara dramatis.

c)      Cognitive

Para ahli kognitif berpendapat bahwa asumsi dasar yang mengarahkan orang-orang bertingkah laku histerionik adalah “aku tidak cukup dan tidak mampu menangani hidup dengan caraku sendiri”. Meskipun asumsi ini dipakai untuk orang-orang dengan gangguan lain, secara kgusus yang mengalami depresi dan orang-orang histerionik merespon asumsi ini secara lebih berbeda dibandingkan dengan gangguan lain. Secara khusus, orang histerionik bekerja untuk mendapat perhatian dan dukungan dari orang lain.

d)    Humanistic
Orang dengan tipe ini memiliki self-esteem yang rendah, dan sedang berjuang untuk member kesan pada orang lain dengan tujuan meningkatkan self-worth mereka.

e)     Interpersonal
Orang dengan tipe histerionik dapat berbuat apa saja agar mendapat perhatian dari sekelilingnya. Walaupun begitu, ia tidak dapat menjalin relasi mendalam dengan lingkungannya. Kadang mereka memperlihatkan perlaku merayu secara sexual (dengan lawan jenis, bahkan pada ayah sendiri), berkompetisi dan terlalu menuntut pada relasi dengan jenis kelamin yang sama.

 

    6.      Gangguan Kepribadian Narsistik

 

Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan mereka. Mereka merasa bahwa dirinya spesial dan berharap mendapatkan perlakuan yang khusus pula. Oleh sebab itu, mereka sulit menerima kritik dari orang lain. Hubungan interpersonal mereka terhambat karena kurangnya empati, perasaan iri, dan arogansi, dan memanfaatkan atau menghendaki orang lain melakukan sesuatu yang istimewa untuk mereka tanpa perlu dibalas. Individu pada gangguan ini sangat sensitif terhadap kritik dan takut akan kegagalan. Terkadang mereka mencari sosok lain yang dapat mengidealkan karena mereka kecewa terhadap diri sendiri, tetapi mereka biasanya tidak mengizinkan siapa pun untuk benar-benar berhubungan dekat dengan mereka.

Hubungan personal mereka sedikit dan dangkal; ketika orang lain menjatuhkan harapan mereka yang tidak realistis, mereka akan marah dan menolak. Prevelensi gangguan ini kurang dari 1%.

 

Etiologi gangguan kepribadian narsistik

Penyebab gangguan kepribadian narsistik dapat dipandang dari segi psikoanalisa. Orang yang mengalami gangguan ini dari luar tampak memiliki perasaan yang luar biasa akan pentingnya dirinya. Namun dipandang dari psikoanalisa, karakteristik tersbut merupakan topeng bagi self-esteem yang rapuh. Menurut heinz kohut, self muncul pada awal kehidupan sebagai struktur bipolar dengan immature grandiosity pada satu sisi dan overidealisasi yang bersifat dependen di sisi lain. Kegagalan mengembangkan self-esteem yang sehat terjadi bila orang tua tidak merespons dengan baik kompetensi yang ditunjukkan oleh anak-anaknya. Dengan demikian, anak tidak bernilai bagi harga diri mereka sendiri, tetapi bernilai sebagai alat untuk meningkatkan self-esteem orang tua.

 

Perspektif Psikososial Mengenai Narcissistic Personality Disorder

 

a)      Psikodinamik

Sigmund Freud memandang narcisme sebagai fase yang dilalui semua anak sebelum menyalurkan cinta mereka kepada diri mereka sendiri dan orang-orang yang berarti (significant person). Anak-anak dapat terfiksasi pada fase narsistik ini, bagaimanapun, jika mereka mengalami bahwa orang-orang yang mengasuhnya tidak dapat dipercaya dan memutuskan bahwa mereka hanya dapat bersandar pada diri sendiri, atau jika mereka memiliki orang tua yang selalu menuruti mereka dan menanamkan pada mereka suatu perasaan bangga atas kemampuan dan harga diri mereka.

b)     Behavioral
Dari sudut pandang sosial learning, Millon menemukan bahwa asal dari gaya narsistik adalah evaluasi berlebihan yang tidak realistic mengenai nilai anak-anak oleh orang tua. Anak tidak mampu menggapai (live up) pada evaluasi-evaluasi orang tuanya mengenai dirinya, tetapi dia secara berkelanjutan bertindak seolah-olah dia merupakan orang yang superior. Demikian pula, Beck dan Freeman berpendapat bahwa beberapa orang narsistik membangun asumsi mengenai keberhargaan-diri (self worth) mereka yang tidak realistic dalam hal-hal yang positif sebagai hasil dari penurutan dan evaluasi yang berlebihan dari significant person saat anak-anak. Orang-orang narsistik lainnya mengembangkan keyakinan bahwa mereka merupakan unik dan luar biasa dalam bereaksi untuk menjadi satu-satuny orang yang berbeda dari orang lain secara etnis, rasial, dan status ekonomi, atau sebagai upaya bertahan menghadapi penolakan oleh significant person dalam kehidupan mereka.

c)     Cognitive
Orang narsistik cenderung terobsesi dan terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasan, cinta yang ideal, atau pengakuan akan kecerdsan dan kecantikan. Seperti orang kepribadian hiterionik, mengejar karir dimana mereka dapat menjadi pusat perhatian dan mendapat pemujaan, seperti modeling, acting dan politik. Ambisi yang serakah membuat mereka mendedikasikan diri untuk bekerja tanpa lelah. Mereka terdorong untuk berhasil namun bukan untuk mandapatkan uang, melainkan untuk mendapat pemujaan yang menyertai kesuksesan.

d)    Humanistic
Secara aktual orang dengan tipe ini memiliki self-esteem yang rendah.

e)     Interpersonal
Orang dengan gangguan ini tidak dapat menjalin relasi secara mendalam karena adanya tuntutan yang dipaksakan pada orang lain, kurang memiliki rasa empati, sering mengagung-agungkan diri, dan mengeksploitasi orang lain sampai mereka puas.

 

    7.      Gangguan Kepribadian Paranoid

 

Gangguan kepribadian paranoid (paranoid personality disorder; PPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu tidak dapat mempercayai dan curiga terhadap orang lain secara berlebihan.  Dikatakan sebagai bentuk gangguan bila perilaku tersebut sifatnya menetap, mengganggu dan membuat tertekan (distressing). Akan tetapi, perilaku ini tidak disebut sebagai bentuk gangguan kepribadian bila kemunculan perilaku tersebut disebabkan oleh skizofrenia, gangguan mood (seperti depresi berat) dengan gejala psikotik, atau gangguan psikotik lainnya (faktor neurologi), atau sebab-sebab yang diakibatkan oleh kondisi medis.
merupakan gangguan proses berpikir yang disebabkan oleh rasa takut dan kecemasan. Kemunculan paranoia bisa disebabkan efek dari medikasi atau disebabkan oleh penggunaan obat-obatan simultan seperti methamphetamine, crack, kokain. Gangguan kepribadian paranoid merupakan karakter paranoia yang menetap, gangguan kepribadian berupa gangguan berpikir, perilaku maladaptif, dan tingkah laku ―muncul menjelang memasuki masa awal dewasa, yang berdampak pada kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, pekerjaan dan fungsi-fungsi sosial lainnya.

Individu dengan gangguan kepribadian paranoid sulit percaya dan curiga berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain sehingga individu PPD merasa takut untuk dekat dengan siapa pun, mencurigai orang asing meskipun orang itu tidak tepat untuk dicurigai. Individu PPD mempunyai teman yang sedikit, sulit mempercayai orang lain membuat individu ini tidak dapat diajak kerjasama dalam sebuah tim. Namun demikian, bukan berarti gangguan kepribadian paranoid tidak dapat menikah. Kecemburuan dan keinginan untuk mengontrol pasangannya menjadi bagian patologi dalam hubungan dengan pasangannya. Hampir setiap saat individu PPD kesulitan untuk bersikap tenang untuk tidak mencurigai orang lain, kadang mereka sengaja mencari-cari orang untuk menjadi tersangka dan patut untuk dicurigai. Rasa takut yang muncul justru membuat individu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa (gugup) ketika orang yang dicurigainya berada dekat dengannya. Seringnya individu PPD melakukan penolakan baik dengan konfrontasi, Agresif atau perselisihan membuat mereka memilih tidak bersahabat dengan orang itu dan memilih diri untuk menyendiri.

Simtom
Beberapa tanda-tanda pada gangguan kepribadian paranoid, antara lain:

–          Kecurigaan yang berulang tanpa dasar atau bukti yang kuat, terhadap orang lain bahwa orang itu akan mengeksploitasi, bersikap jahat atau menipu dirinya.

–          Sulit mempercayai orang lain dan tidak dapat bersikap loyal terhadap orang atau kerjasama tim.

–          Enggan berbagi pelbagai informasi kepada orang lain disebabkan rasa takut yang tidak beralasan bahwa sewaktu-waktu orang lain akan bersikap jahat kepadanya

–          Mengartikan kata-kata atau teguran yang ramah sebagai ancaman atau merendahkan dirinya

–          Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, meskipun pada masalah-masalah kecil. Sulit untuk memaafkan orang lain yang pernah menganggu, melukai, menyakiti atau mengabaikan dirinya.

–          Ketika bersinggungan dengan karakter atau reputasinya oleh orang lain, ia akan segera bereaksi dengan amarah atau menyerang balik orang itu (dengan kekerasaan fisik)

–          Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya.

Faktor Penyebab

Penyebab utama munculnya gangguan kepribadian paranoid tidak diketahu secara pasti, namun diperkirakan faktor genetika mempunyai peran terhadap kemunculannya gangguan tersebut, misalnya anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia. Gangguan kepribadian paranoid dapat juga muncul dari pengalaman masa kanak-kanak yang tumbuh dari keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan ancaman. Perilaku orangtua dengan kesehariannya yang kasar, berantakan, merendahkan diri anak-anaknya, juga mempengaruhi pembentukan karakteristik gangguan ini pada anak dikemudian hari.

 

Treatment

1.      Medikasi

Sama halnya dengan gangguan kepribadian lainnya, tidak ada obat medis yang dapat menyembuhkan secara langsung PPD. Penggunaan obat-obatan diberikan bila individu mengalami kecemasan berupa diazepam (dengan batasan waktu tetentu saja), penggunaan thioridazine dan haloperidol (anti psikotik) diberikan bila individu PPD untuk mengurangi Agitasi dan delusi pada pasien.

2.      Psikoterapi

Kesulitan yang dihadapi oleh terapist pada gangguan ini adalah penderita tidak menyadari adanya gangguan dalam dirinya dan merasa tidak memerlukan bantuan dari terapist. Kesulitan lain yang dihadapi terapis bahwa individu PDD sulit menerima terapis itu sendiri, kecurigaan dan tidak percaya membuat terapi sulit dilakukan.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan terapis adalah bagaimana terapis menjaga sikap, perilaku, dan pembicaraanya, individu PDD akan meninggalkan terapi bila ia curiga, tidak menyukai terapisnya. Terapis juga harus menjaga dirinya untuk tidak melucu didepan individu PPD yang tidak memiliki sense of humor. Menjaga tidaknya konfrontasi ide-ide atau pemikiran secara langsung dengan pasien.

Terapi yang digunakan adalah Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi kelompok dalam CBT, individu akan dilatih agar mampu menyesuaikan dirinya dengan orang lain, saling menghargai dan mengenal cara berpikir orang lain secara positif dan mengontrol amarahnya sehingga individu dapat menciptakan hubungan interpersonal yang baik.

Namun demikian, individu dengan PPD kronis terapi kelompok dan keluarga tidak akan efektif dijalankan karena pada individu PPD kronis tingkat kepercayaan terhadap orang lain samasekali tidak ada.

Trait penentu dalam gangguan ini adalah perasaan curiga yang pervasive, kecenderungan untuk menginterpretasi perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan. Orang dengan gangguan ini sangat tidak percaya dengan orang lain, dan hubungan social mereka terganggu karenanya. Meski mereka mencurigai rekan kerja atau teman mereka atau atasan mereka, pada umumnya mereka tetap dapat bekerja. Orang yang memiliki gangguan paranoid cenderung terlalu sensitif terhadap kritikan, baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Mereka paham pada ketidak hormatan baik itu kecil sekalipun. Mereka mudah marah dan tidak terima bila mereka pikir mereka telah diperlakukan dengan buruk. Selain itu mereka juga tidak percaya pada orang lain, selalu mempertanyakan ketulusan yang orang lain berikan, senyuman atau lirikan bisa ditanggapi dengan kecurigaan.

Contoh kasus:

Seorang pensiunan pengusaha berusia 85 tahun diwawancarai seorang pekerja sosial untul menetukan kebutuhan perawatan kesehatan bagi dirinya dan istrinya yang sakit dan lemah. Pria ini tidak memiliki sejarah penanganan gangguan mental. Ia terlihat sehat dan waspada secara mental. Ia dan istrinya telah menikah selama 60 tahun, dan tampak bahwa istrinya merupakan satu-satunya orang yang benar-benar ia percaya. Dia selalu curiga pada orang lain. Ia tidak akan mengungkapkan informasi pribadi pada siapapun kecuali pada istrinya, yakin bahwa orang lain akan mengambil keuntungan darinya. Ia menolak tawaran bantuan dari kenalannya karena ia curiga dengan mereka. Saat menerima telepon ia akan menolak menyebutkan namanya sampai ia tahu maksud si penelepon. Ia selalu melibatkan dirinya dalam “pekerjaan yang berguna” untuk mengisi waktunya, bahkan selama 20tahun masa pensiunnya. Ia meluangkan waktu yang cukup banyak untuk memonitor investasinya dan pernah bertengkar dengan pialangnya saat terjadi kesalahan dalam rekening bulanannya, yang membuatnya curiga bahwa pialangnya tersebut berusaha menutupi transaksi yang curang. (Diadaptasi dari Spitzer dkk,1994, hal. 211-213).

Penanggulangan:

Perawatan untuk gangguan kepribadian paranoid akan sangat efektif untuk mengendalikan paranoia (perasaan curiga berlebih) penderita, namun hal itu akan selalu menjadi sulit dikarenakan penderita akan selalu memiliki kecurigaan kepada dokter atau terapis yang merawatnya. Jika dibiarkan saja maka keadaan penderita akan menjadi lebih kronis. Perawatan yang dilakukan, meliputi sistem perawatan utama dan juga perawatan yang berada di luar perawatan utama (suplement), seperti program untuk mengembangkan diri, dukungan dari keluarga, ceramah, perawatan di rumah, membangun sikap jujur kepad diri sendiri, kesemuanya akan menyempurnakan dan membantu proses penyembuhan penderita. Sehingga diharapkan konsekuensi sosial terburuk yang biasa terjadi dari gangguan ini, seperti perpecahan keluarga, kehilangan pekerjaan dan juga tempat tinggal dapat dihindari untuk dialami oleh si penderita. Medikasi atau pengobatan untuk gangguan kepribadian paranoid secara umum tidaklah mendukung, kecenderungan yang timbul biasanya adalah meningkatnya rasa curiga dari pasien yang pada akhirnya melakukan penarikan diri dari terapi yang telah dijalani. Para ahli menunjuk pada bentuk perawatan yang lebih berfokus kepada kondisi spesifik dari gangguan tersebut seperti kecemasan dan juga delusi, dimana perasaan tersebut yang menjadi masalah utama perusak fungsi normal mental penderita. namun untuk penanggulangan secara cepat terhadap penderita yang membutuhkan penanganan gawat darurat maka penggunaan obat sangatlah membantu, seperti ketika penderita mulai kehilangan kendali dirinya seperti mengamuk dan menyerang ornag lain.

Psikoterapi merupakan perawatan yang paling menjanjikan bagi para penderita gangguan kepribadian paranoid. Orang-orang yang menderita penyakit ini memiliki masalah mendasar yang membutuhkan terapi intensif. Hubungan yang baik antara terapis dengan klien kunci kesembuhan klien. Walau masih sangat sulit untuk membangun suatu hubungan yang baik dikarenakan suatu keragu-raguan yang timbul serta kecurigaan dari diri klien terhadap terapis. Walau penderita gangguan kepribadian paranoid biasanya memiliki inisiatif sendiri untuk melakukan perawatan, namun sering kali juga mereka sendiri juga lah yang menghentikan proses penyembuhan secara prematur ditengah jalan. Demikian juga dengan pembangunan rasa saling percaya yang dilakukan oleh sang terapis terhadap klien, dimana membutuhkan perhatian yang lebih, namun kemungkinan akan tetap rumit untuk dapat mengarahkan klien walaupun tahap membangun rasa kepercayaan telah terselesaikan. Kemungkinan jangka panjang untuk penderita gangguan kepribadian paranoid bersifat kurang baik, kebanyakan yang terjadi terhadap penderita dikemudian hari adalah menetapnya sifat yang sudah ada sepanjang hidup mereka, namun dengan penanganan yang efektif serta bersifat konsisten maka kesembuhan bagi penderita jelas masih terbuka. Metode pengembangan diri secara berkelompok dapat dilakukan kepada penderita walau memiliki kesulitan saat pelaksanaannya. Kecurigaan tingkat tinggi dan rasa tidak percaya pada penderita akan membuat kehadiran kelompok pendukung menjadi tidak berguna atau bahkan lebih parahnya dapat bersifat merusak bagi diri penderita.

 

                  8.      Gangguan Kepribadian Anti-Sosial

 

Orang dewasa yang mengalami gangguan antisosial menunjukkan perilaku tidak bertanggung jawab dan antisosial dengan bekerja secara tidak konsisten, melanggar hukum, mudah tersinggung, agresif secara fisik, tidak mau membayar hutang, sembrono, ceroboh, dan sebagainya. Mereka impulsif dan tidak mampu membuat rencana ke depan. Mereka sedikit atau bahkan tidak merasa menyesal atas berbagai tindakan buruk yang mereka lakukan. Gangguan ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dan lebih banyak terjadi di kalangan anak muda daripada dewasa yang lebih tua. Gangguan ini lebih umum terjadi pada orang dengan status sosioekonomi rendah.

Sementara itu, salah satu karakteristik psychopathy adalah kemiskinan emosi, baik positif maupun negatif. Orang-orang psychopathy tidak memiliki rasa malu, bahkan perasaan mereka yang tampak positif terhadap orang lain hanyalah sebuah kepura-puraan. Penampilan psikopat menawan dan memanipulasi orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kadar kecemasan yang rendah membuat psikopat tidak mungkin belajar dari kesalahannya. Kurangnya emosi positif mendorong mereka berperilaku secara tidak bertanggung jawab dan berperilaku kejam terhadap orang lain.

Penyebab gangguan ini berkaitan dengan peran keluarga. Kurangnya afeksi dan penolakan berat orang tua merupakan penyebab utama perilaku psychopathy. Selain itu, juga disebabkan oleh tidak konsistennya orang tua dalam mendisiplinkan anak dan dalam mengajarkan tanggung jawab terhadap orang lain. Orang tua yang sering melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya dapat menyebabkan gangguan ini. Gangguan ini juga dapat disebabkan oleh kehilangan orang tua. Di samping itu, ayah dari penderita psikopat kemungkinan memiliki perilaku antisosial. Faktor lingkungan di sekitar individu yang buruk juga dapat menyebabkan gangguan ini.

Perspektif Psikososial Mengenai Psichopathy

a)     Psikodinamik
Terjadi karena dorongan-dorongan bawah sadar terhadap pemuasan id ditambah dengan rendahnya kontrolnya ego sehingga id lebih dominan dan akhirnya dia melakukan segala cara untuk memuaskan id nya seperti membunuh, dan menyakiti orang lain, atau menipu. Disamping itu, orang yang menderita gangguan tersebut mempunyai super ego yang tumpul sehingga ia tidak merasa bersalah atas apa yang telah di lakukannya meskipun perilakunya sudah merugikan banyak orang.

b)     Behavioral
Teori behavioristik memandang bahwa gangguan kepribadian psikopat di sebabkan oleh proses belajar yang salah selama rentang kehidupanya. Ia tidak memahami perilaku mana yang benar dan perilaku mana yang salah. Anak yang tidak pernah mendapatkan reward atas hasil baik yang ia lakukan justru ia selalu mendapatkan perilaku dan pengalaman yang tidak menyenangkan saat melakukan perbuatan yang baik maupun yang buruk. Maka anak tersebut belajar bahwa, tidak ada yang namanya benar. Tetapi, apapun yang ia lakukan akan sama saja dampaknya

c)     Cognitive
Psikopat terjadi karena mengalami distorsi kognitif. Ia berfikir bahwa ia dapat mendapatkan apa saja yang ia mau dengan melakukan apa saja yang ia inginkan untuk membawanya kepada sesuatu yang ia inginkan tersebut meskipun perilakunya membawa pengaruh atau efek buruk bagi orang lain.

d)    Humanistic
Dalam teori humanistik, gangguan tersebut di sebabkan oleh terhambatnya dan tidak tercapainya proses menuju aktualisasi diri yang sehat. Seseorang yang menderita gangguan tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Baik kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan akan rasa cinta dan dicintai.

e)     Interpersonal
Seseorang yang psikopat biasanya cuek pada norma-norma sosial, tak peduli pada aturan, dan pemberontak. Kepribadiannya yang sulit ditebak, bisa terlihat dari ketidakstabilannya dalam hubungan interpersonal, citra diri, serta selalu bertindak menuruti kata hati. Tanpa peduli perbuatannya itu salah atau benar, mengganggu orang atau tidak. Orang seperti ini cenderung impulsif (melakukan sesuatu tanpa pikir panjang), dan berpikiran negatif serta memiliki sifat pendendam.

 

           9.      Gangguan Kepribadian Sadistik dan Masokistik

Gangguan ini bukan merupakan diagnosis resmi dalam DSM IV atau spendiksnya, tetapi dapat didiagnosis sebagai gangguan kepribadian yang tidak diklasifikasikan. Sadisme (berasal dari nama seorang penulis di abad ke-18 yaitu Marquis de Sade, yang menulis tentang orang yang mengalami kenikmatan seksual saat menyiksa orang lain) adalah keinginan untuk menyebabkan rasa sakit pada orang lain baik secara penyiksaan seksual atau fisik atau penyiksaan psikologi pada umumnya. Sigmund Freud percaya bahwa pasien sadisme untuk mencegah kecemasan kastrasi dan mampu untuk melakukan kepada orang lain apa yang mereka takutkan akan terjadi pada diri mereka.

Sedangkan masokisme (nama mengikuti Leopold von Sacher-Masoch, seorang penulis novel yang berasal dari Austria abad ke-19) adalah pencapaian pemuasan seksual dengan menyiksa diri sendiri. Pada umumnya, yang dinamakan penderita masokisme moral mencari penghinaan dan kegagalan, bukannya sakit fisik. Menurut Sigmund Freud, kemampuan penderita masokisme untuk mencapai orgasme terganggu oleh kecemasan dan perasaan bersalah tentang seks dan perasaan tersebut dihilangkan oleh penderitaan dan hukuman pada diri mereka sendiri. Pengamatan klinis menyatakan bahwa elemen perilaku sadisme dan masokisme biasanya ditemukan pada orang yang sama.

Treatment yang dapat diberikan yaitu Psikoterapi. Terapi psikoanalisis efektif pada beberapa kasus. Sebagai hasil terapi, pasien menjadi menyadari bahwa kebutuhan menghukum diri sendiri adalah sekunder akibat perasaan bersalah bawah sadar yang berlebihan dan juga menjadi mengenali impuls agresif mereka yang terepressi, yang berasal dari masa anak-anak awal.

 

                  10.  Gangguan Kepribadian Ambang

 

Disebut dengan kepribadian ambang (borderline) karena berada di perbatasan antara gangguan neurotik dan skizofrenia. Ciri-ciri utama gangguan ini adalah impulsivitas dan ketidakstabilan dalam hubungan dengan orang lain dan memiliki mood yang selalu berubah-ubah. Contohnya, sikap dan perasaan terhadap orang lain dapat berubah-ubah secara signifikan dan aneh dalam kurun waktu yang singkat. Individu yang mengalami gangguan borderline memiliki karakter argumentatif, mudah tersinggung, sarkastik, cepat menyerang, dan secara keseluruhan sangat sulit untuk hidup bersama mereka.

Perilaku mereka yang tidak dapat diprediksi dan impulsif, boros, aktivitas seksual yang tidak pandang bulu, penyalahgunaan zat, dan makan berlebihan, berpotensi merusak diri sendiri. Mereka tidak tahan berada dalam kesendirian, memiliki rasa takut diabaikan, dan menuntut perhatian. Mudah mengalami perasaan depresi dan perasaan hampa yang kronis, mereka sering kali mencoba bunuh diri. Gangguan kepribadian borderline bermula pada masa remaja atau dewasa awal, dengan prevelensi sekitar 1 persen, dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki.

Penyebab terjadinya gangguan kepribadian borderline antara lain dapat dijelaskan oleh kedua pandangan berikut:

a)      Faktor biologis

Faktor-faktor biologis antara lain disebabkan oleh faktor genetis. Gangguan kepribadian borderline dialami oleh lebih dari satu anggota dalam satu keluarga. Beberapa data menunjukkan adanya kelemahan fungsi lobus frontalis, yang sering diduga berperan dalam perilaku impulsif. Individu dengan gangguan borderline mengalami peningkatan aktivasi amigdala, suatu struktur dalam otak yang dianggap sangat penting dalam pengaturan emosi.

b)      Linehan’s diathesis-stress theory

Menurut teori ini, gangguan kepribadian borderline berkembang ketika individu dengan diatesis biologis (kemungkinan genetis) di mana ia mengalami kesulitan untuk mengontrol emosi, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang salah (invalidating). Dalam teori ini, diatesis biologis disebut sebagai emotional dysregulation. Sedangkan invalidating experience adalah pengalaman di mana keinginan dan perasaan individu diabaikan dan tidak dihormati; usaha individu untuk mengkomunikasikan perasaannya tidak dipedulikan atau bahkan diberi hukuman. Salah satu contoh ekstremnya adalah kekerasan pada anak, baik secara seksual maupun nonseksual. Dengan kata lain, emotional dysregulation saling berinteraksi dengan invalidate experience anak yang sedang berkembang. Hal itulah yang kemudian memicu perkembangan kepribadian borderline.

Perspektif Psikososial Mengenai Borderline Personality Disorder

a)      Psikodinamik

Individu dengan gangguan kepribadian borderline sering kali mengembangkan mekanisme defense yang disebut splitting, yaitu mendikotomikan objek menjadi semuanya baik atau semuanya buruk dan tidak dapat mengintegrasikan aspek positif dan negatif orang lain atau diri menjadi suatu keutuhan. Hal itu menimbulkan kesulitan yang ekstrem dalam meregulasi emosi karena individu borderline melihat dunia, termasuk dirinya sendiri, dalam dikotomi hitam-putih. Bagaimanapun juga, defense ini melindungi ego yang lemah dari kecemasan yang tidak dapat ditoleransi.

Teori ini merupakan teori dari psikoanalisa yang memfokuskan diri pada bagaimana cara anak mengintroyeksikan nilai-nilai dan gambaran yang berhubungan dengan orang-orang yang dianggap penting dalam hidupnya, misalnya orang tua. Dengan kata lain, fokus dari teori ini adalah cara anak mengidentifikasikan diri dengan orang lain di mana ia memiliki emotional attachment yang kuat dengan orang tersebut. Orang-orang yang diintroyeksikan tersebut menjadi bagian dari ego si anak pada masa dewasa, tetapi dapat menimbulkan konflik dengan harapan, tujuan, dan ideal-idealnya.

Teori ini beranggapan bahwa individu bereaksi terhadap dunia melalui perspektif dari orang-orang penting dalam hidupnya pada masa lalu, terutama orang tua atau caregiver. Terkadang perspektif tersebut berlawanan harapan dan minat dari individu yang bersangkutan. Otto kernberg, salah seorang tokoh dalam teori ini menyatakan bahwa pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa kanak-kanak, misalnya mempunyai orang tua yang memberikan cinta dan perhatian secara tidak konsisten (menghargai prestasi anak, tetapi tidak dapat memberikan dukungan emosional dan kehangatan), dapat menyebabkan anak mengembangkan insecure egos (bentuk umum dari gangguan kepribadian borderline).

Beberapa hasil penelitian juga mendukung teori ini. Individu yang mengalami gangguan kepribadian borderline menyatakan kurangnya kasih sayang dari ibu. Mereka memandang keluarga mereka tidak ekspresif secara emosional, tidak memiliki kedekatan emosional, dan sering terjadi konflik dalam keluarga. Selain itu, mereka biasanya juga mengalami kekerasan seksual dan fisik serta sering mengalami perpisahan dengan orang tua pada masa kanak-kanak.

Bagaimanapun juga, hasil-hasil penelitian tersebut masih belum dapat menyatakan secara jelas apakah pengalaman-pengalaman itu memang hanya dialami oleh mereka dengan gangguan kepribadian borderline saja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa individu yang mengalami gangguan kepribadian borderline mempunyai pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Namun belum jelas apakah pengalaman tersebut bersifat spesifik bagi gangguan ini.

b)      Behavioral

Orang dengan gangguan borderline biasanya dibesarkan oleh pola asuh maladaptive, ditinggalkan pengasuh, dan memiliki trauma abuse saat kecil. Hal ini membuat mereka saat dewasa menjadi haus akan perhatian dan kasih sayang, sangat sensitive.

c)      Cognitive

Pada beberapa kasus, ditemukan pula cara berpikir orang paranoid, yaitu penuh kecurigaan terhadap orang lain.

d)     Humanistic

Orang dengan gangguan borderline cenderung tidak yakin tentang identitas pribadi mereka (nilai, tujuan, karir, dan bahkan orientasi seksual). Ketidakstebilan dalam self-image atau identitas pribadi membuat mereka dipenuhi perasaan kekosongan dan kebosanan yang terus-menerus.

e)      Interpersonal

Orang dengan tipe borderline ide ketakutan akan ditinggalkan menjadikan mereka pribadi yang melekat dan menuntut dalam hubungan sosial mereka, namun kelekatan mereka sering kali malah menjauhkan orang-orang di sekitarnya. Tanda-tanda penolakan membuat mereka menjadi sangat marah, yang membuat mereka menjadi lebih jauh lagi. Akibatnya, perasaan mereka terhadap lingkingan menjadi berubah-ubah. Mereka cendreung mamandang orang lain sebagai semua-tentangnya-baik dan semua-tentangnya-buruk, karena berubah-ubah dengan cepat dan ekstrem.

 

          11.  Gangguan Kepribadian Obsesive-Kompulsif

 

Individu dengan obsessive-compulsive personality bersifat perfeksionis, sangat memperhatikan detail, aturan, jadwal, dan sebagainya. Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif sangat memperhatikan detail sehingga kadang ia tidak dapat menyelesaikan hal yang dikerjakannya. Ia lebih berorientasi pada pekerjaan daripada bersantai-santai dan sangat sulit mengambil keputusan karena takut membuat kesalahan. Selain itu, ia juga sangat sulit mengalokasikan waktu karena terlalu memfokuskan diri pada hal-hal yang tidak seharusnya. Biasanya ia memiliki hubungan interpersonal yang kurang baik karena keras kepala dan meminta segala sesuatu dilakukan sesuai dengan keinginannya. Istilah yang umum digunakan sebagai julukan bagi individu seperti itu adalah “control freak”. Individu dengan gangguan kepribadian ini pada umumnya bersifat serius, kaku, formal dan tidak fleksibel, terutama berkaitan dengan isu-isu moral. Ia tidak mampu membuang objek yang tidak berguna, walaupun objek tersebut tidak bernilai. Di samping itu, ia juga pelit atau kikir.

Berdasarkan dsm-iv-tr, kriteria dependent personality disorder yaitu sebagai berikut:

–          Sangat perhatian terhadap aturan dan detail secara berlebihan sehingga poin penting dari aktivitas hilang.

–          Perfeksionisme yang ekstrem pada tingkat di mana pekerjaan jarang terselesaikan.

–          Ketaatan yang berlebihan terhadap pekerjaan sehingga mengesampingkan waktu senggang dan persahabatan.

–          Kekakuan dalam hal moral.

–          Kesulitan dalam membuang barang-barang yang tidak berguna.

–          Tidak ingin mendelegasikan pekerjaan kecuali orang lain megacu pada satu standar yang sama dengannya.

–          Kikir atau pelit.

–          Kaku dan keras kepala.

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif agak berbeda dengan gangguan obsesif kompulsif. Pada gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, tidak terdapat obsesi dan kompulsi seperti pada gangguan obsesif-kompulsif. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif paling sering muncul bersamaan dengan gangguan kepribadian avoidant dan memiliki prevalensi sekitar 2 persen.

Perspektif Psikososial Mengenai Obsessive-Compulsive Personality Disorder.

a)      Psikodinamik

Menurut Freud, perkembangan manusia terjadi melalui beragam tahapan psikoseksual. Masing-masing, wilayah badan tertentu menjadi zona yang erogenous, fokus energi libidinal selama periode tertentu itu. Seksualitas diterima sebagai kekuatan instingtif yang biasanya diabaikan. Bagi banyak orang, kemajuan melalui tahapan psikoseksual tidaklah begitu memukau. Beberapa individu mengalami frustasi eksesif atau kegemaran eksesif, muncul dalam penyesuaian energi seksual atas tahap tertentu, sehingga mewarnai keseluruhan kepribadian. Sepanjang tahap oral, energi seksual terfokus pada mulut. Gratifikasi kebutuhan oral yang eksesif dipercaya mengarah pada perkembangan karakter oral, ekuivalen psikodinamik dari kepribadian dependen kontemporer.

Begitu anak-anak beranjak balita, mereka meninggalkan tahap oral dan memasuki periode pelatihan toilet, tahap anal, dimulai pada usia 18 bulan. Seperti freud catat (1908), bila tahap oral menghisap air susu ibu, refleks bawaan semua bayi, maka tahap anal mengawali periode erotisisme anal yang tidak hanya menampakkan apa yang kelihatan. Khususnya, tahap anal memerlukan kontrol diri, penundaan gratifikasi instingtif yang mengiringi pembuangan feses. Dorongan penuh hasrat dari id mengarahkan secara langsung keinginan pada orangtua, sehingga tahap anal memainkan peran penting dalam pembentukan superego dan kontrol impuls agresif.

Pengaruh pasti tahap anal atas perkembangan kepribadian tergantung pada perilaku yang dilakukan orangtua ketika melakukan pelatihan toilet. Perilaku yang kaku, tergesa-gesa, dan terlalu menuntut dapat memunculkan ciri-ciri anal-retrentif, imbangan karakter logik dari kepribadian kompulsif. Pada dasarnya, anak-anak menanggapi orangtua dengan mundur dan menolak melakukan, mengarah pada ciri-ciri dewasa seperti kekeras-kepalaan, kekakuan, dan kemarahan tersembunyi. Tipe-tipe anal-retentif juga dipercayai selalu tepat waktu, teratur, teliti, dan dikelilingi kebersihan, ciri-ciri utama yang mengarahkan orangtua mereka agar patuh jadwal, dengan segalanya pada tempatnya, tanpa berantakan. Alternatifnya, anak-anak mungkin menanggapi dengan menjadi tipe anal-ekspulsif. Di sini, anak-anak menjadi ofensif; feses menjadi senjata. Strategi anal-retentif sepenuhnya merupakan penolakan, kini strategi berubah menjadi perusakan keinginan mereka secara aktif, hasrat yang membuat orang lain menyesali karena mereka pernah menguasainya. Biasanya, ciri-ciri kedewasaan merupakan kebalikan dari tipe anal-retentif dan mencakup kerusakan, penyimpangan dan kekejaman sadistis.

Seiring psikoanalisis mulai mengembangkan relasi ego psikologi dan obyek, konsepsi karaker anal pun diperluas. W. Reich (1933) mengemukakan sang kompulsif sebagai yang dikelilingi dengan ‘aturan pedantik’, sebagai makhluk hidup menurut pola yang disesuaikan namun juga cenderung risau dan cemas. Mungkin lebih penting, w. Reich (1949) menganggap sang kompulsif sebagai yang diterimas secara emosional, tidak menampakkan cinta dan afeksi, karakteristik yang dia sebut ‘blok afek’.

Kita telah melihat bahwa kompulsif, secara tersirat meminta aturan, rincian, dan kesempurnaan sebagai seperangkat peniruan dengan apa yang tidak dapat diduga atau tidak pasti di dunia sekitar mereka. Namun itu bukanlah batas persyaratan ini; sang kompulsif meminta rasa aman yang sama dari dunia internal mereka. Pada sembarang waktu, pengujian kecil sendiri menunjukkan bahwa banyak dari kita yang mendidih karena perasaan bertikai yang menarik kita dan mencegah penilaian hitam-putih, bahkan pada situasi sederhana sekalipun. Anda mengikuti suatu kelas dan walau instrukturnya hebat, beban kerja lebih sesuai di kelas lain dan menyebabkan anda marah dan menyesal. Anda mengikuti kelas, walau beban kerjanya mudah, anda bisa saja dapat substansi lebih karena bayaran anda. Anda mencintai ibu anda, namun dia mengejek anda; lalu, ketika dia mengurus anda walau sebentar, anda penasaran apakah dia masih mencintai anda. Isu-isunya mungkin berbeda, namun setiap orang terjebak di teka-teki kata semacam itu. Banyak di antara kita hanya mengakui kedua sisi koin dan menoleransi kompleksitas hidup. Tidak ada yang semuanya jahat atau semuanya baik.

Bagi sang kompulsif, perasaan berlawanan dan disposisi semacam itu menciptakan perasaan marah yang intens, ketidakpastian, dan ketidakamanan yang harus tetap diikat. Untuk melakukan hal tersebut, mereka memakai semua strategi bertahan, lebih dari pola kepribadian lainnya. Riset berpendapat bahwa yang pertama, dan mungkin yang paling menentukan, adalah pembentukan reaksi (berman & mccann, 1995). Di sini, sang kompulsif membalikkan dorongan kecerobohan dan pemberontakan yang terlarang untuk mengkompromikan ideal ego yang kaku dan tinggi. Contohnya, ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan kecemasan banyak orang, sang kompulsif menghargai diri mereka sendiri ketika menampilkan kedewasaan dan kemasukakalan, seperti yang efeknya, sang kompulsif secara simbolik membersihkan diri mereka sendiri dari kekotoran dan kehinaan dengan mengembangkan apa yang bertentangan secara diametral.

Kedua, sang kompulsif sering memindahkan kemarahan dan ketidakamanan dengan mencari beberapa posisi kekuasaan yang memperbolehkan mereka untuk menjadi superego yang dijatuhi sanksi secara sosial untuk yang lainnya. Di sini, sang kompulsif mengeluarkan kemarahan mereka dengan membuat yang lainnya mematuhi standar yang tidak mampu bekerja secara terinci atau kaku. Mereka yang rendah kedudukannya maka harus mengakui otoritas dan pengetahuan atasan yang kompulsif atau menjatuhkan korban ke penghakiman menyeluruh yang mensegel kebahagiaan bijak dan sadistis di belakang topeng kedewasaan. Hukuman menjadi tugas; humanitarianisme, kegagalan. Ayah yang kelewat moralis dan ibu yang kelewat menguasai menyediakan contoh permusuhan kamuflase. Di samping usaha kontrol mereka, riset menunjukkan bahwa ciri-ciri kompulsif erat kaitannya dengan agresi impulsif (stein, trestman, mitropoulou, & coccaro, 1996).

Mekanisme pertahanan lainnya yang dipakai sang kompulsif, isolasi afek, menghubungkan domain psikodinamik dan kognitif, setidaknya bagi kepribadian macam ini. Permintaan yang sama akan aturan dan kesempurnaan yang sang kompulsif minta kepada lingkungan mereka, mereka meminta lanskap mental mereka sendiri. Untuk menjaga impuls dan perasaan oposisional dari memengaruhi satu sama lain dan memegang citra-citra ambivalen dan perilaku berlawanan dari pembuangan menjadi kepedulian sadar, mereka mengatur dunia dalam mereka menjadi kompartemen kaku, dan ketat. Efeknya, sang kompulsif berusaha mencekik insting, gairah, dan emosi dengan menghancurkan pengalaman sehingga lebih mudah dibicarakan daripada dirasakan. Bagi orang normal, kenangan bukan hanya mekanisme mengingat kembali, namun juga serangkaian pemutaran kembali episode dari hidup kita untuk mengingat kembali keutuhan pengalaman asli, dengan semua emosi dan sensasi yang mengiringinya. Walau beberapa di antaranya menakutkan dan yang lainnya dihargai, semua kita punya kenangan seperti itu sehingga kita seringkali ke sana.

Sang kompulsif berbeda. Isi mental mereka menyerupai tempat penyimpanan yang diatur dalam jumlah besar dari fakta yang diciutkan atau dikeringkan, yang masing-masing ditunjukkan namun tetap terpisah dari yang lainnya. Efeknya, tujuan mereka berlawanan dengan dengan sajak. Oleh karena sajak membubuhi pengalaman dengan menyediakan jaringan simbolik dan metaforis dengan pengalaman terkait, sang kompulsif berusaha mendapatkan setiap aspek pengalaman di kompartemen kecilnya. Mereka mengumpulkan kenangan mereka dan hanya melakukan asosiasi intelektual di antara mereka. Dengan mencegah interaksi mereka, sang kompulsif memastikan bahwa tidak ada satu pun fase pengalaman yang mampu mengkatalis apapun sehingga mampu menghasilkan emosi yang tidak terantisipasi atau menggerakkan kedalaman yang signifikan. Akibatnya, banyak kompulsif melihat penjajakan diri itu percuma saja. Psikoterapi mungkin dilihat terlalu banyak sains halus untuk menjamin waktu atau perhatian mereka. Bagi para kompulsif, isolasi afeksi dan struktur mental secara tertutup saling memberdayakan.

Konsepsi modern kepribadian kompulsif diletakkan berhadapan dengan kerangka relasi-obyek. Seperti telah dicatat, perkembangan psikodinamik dari kepribadian kompulsif erat terkait dengan tahap anal. Freud menekankan frustasi dan perasaan energi psikoseksual yang mendalam. Pemikir psikodinamik belakangan menafsirkan kembali tahapan psikoseksual dalam istilah relasi-obyek, memusatkan peranan pengawas, bukan perasaan mendalam energi kejiwaan. Konflik mendasar terjadi antara hasrat orangtua ikut campur dan mengontrol, serta rasa otonomi anak yang bertumbuh. Pelatihan toilet lalu hanya merupakan bagian kecil interaksi total antara orangtua dan anak, serta adalah di luar interaksi total ini personalitas itu tumbuh.

Pada saat mereka mencapai kedewasaan mereka, sang kompulsif masa depan telah penuh menghayati keketatan dan regulasi orangtua mereka. Hingga kini, mereka dilengkapi dengan ukuran dalam yang secara kasar menilai dan mengawasi mereka, tanpa iba menyusup untuk meragukan mereka dan ragu-ragu sebelum beraksi. Sumber daya tantangan eksternal telah digantikan dengan kontrol pendekatan diri internal yang ketat. Sang kompulsif kini menjadi jaksa dan hakim mereka sendiri, siap mengutuk diri mereka sendiri tidak hanya karena banyak lagak namun juga karena pemikiran transgresi. Dengan menekankan perasaan bersalah, anak-anak mendapatkan suara kritis nurani yang siap memarahi bahkan ketika pengasuh secara fisik absen atau bahkan mati. Unsur keagamaan sering memainkan peranan penting. Beberapa di antaranya mengatakan konsekuensi menakutkan dari dosa; yang lainnya mengatakan bagaimana sulitnya atau malunya orangtua mereka jika mereka menyimpang dari ‘jalan lurus’. Kadang-kadang, mereka mengubah rasa moralitas mereka menjadi rasa superioritas moral, dan memakainya untuk mengisi bahan bakar kemarahan yang mengesampingkan ekspresi kemarahan dan fokus padanya atas tujuan yang sesuai.

 

b)      Behavioral

Individu dengan tipe ini, kemungkinan saat kecil dididik untuk selalu mematuhi peraturan figur otoritas, dituntut untuk selalu benar dalam berbagai hal, dihukum karena tidak bisa tampil sempurna, tidak diberi reward setelah melakukan kesuksesan. Selain itu, bisa juga karena melihat saudaranya dihukum karena tidak sempurna, mereka sering diberi tanggung jawab atas hal yang tidak mereka ketahui atau tidak mereka kuasai, dicap sebagai anak yang buruk (dalam hal sikap). Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif dapat bekerja dengan baik dalam posisi yang membutuhkan pekerjaan metodologis, deduktif atau terperinci. Tetapi mereka rentan terhadap perubahan yang tidak diharapkan. Dilihat dari teori kognitif-behavioral, pasien gangguan ini mempunyai perhatian yang tidak realistik mengenai perfeksitas dan penolakan terhadap kesalahan. Kalau gagal dalam mencapai perfeksitas, ia menganggap dirinya tidak berharga (Martaniah, 1999 : 79).

 

c)      Cognitive

Ciri-ciri kognitif yang kuat dari kepribadian kompulsif dikenali dan ditulis teoris analitik jauh sebelum perspektif kognitif menjadi tenar. Adapun kajian pengolahan-informasi kontemporer peduli dengan pencatatan arsitektur dan proses kognisi, kajian analitik lebih peduli dengan gaya kognitif dan hubungan erat antara karakter dan kognisi. W. Reich (1933, h. 211) menilai sang kompulsif sebagai bimbang dan ragu. Teoris psikoanalitik lainnya mencatat ketidaktoleransian. Sang kompulsif memperlakukan isi mental mereka selayaknya mereka memperlakukan kerja mereka,. Mereka gemar memiliki barang-barang yang konkrit; semuanya harus sesuai dengan beberapa sistem klasifikasi; semuanya yang sulit diatur menjadi sumber kecemasan atau sasaran kutukan. Mencandui konsep klasik tentang karakter anal, rado (1959: 326) menggambarkan orang ini sebagai konkrit, berorientasi pada fakta, dan mengutuk keragaman dan imajinasi. Ciri-ciri kognitif seperti itu mungkin bisa dilacak ke belakang pada lingkungan keluarga. Ketika orangtua anda begitu keji, mudah menghukum, dan merasa benar sendiri, anda biasanya lebih menyukai hal kongkrit karena lebih mudah menilai dan menghindari masalah, terutama jika kamu adalah anak-anak dan tanpa unsur kognitif dewasa.

Segalanya yang berada pada sisi terjauh dari perhatian kepribadian kompulsif berpotensi diangkut secara langsung menuju pusat kesadaran dan meletakkan di bawah kehebatan orang. Para individu ini tidak hanya tidak mampu memahami ‘gambaran besar’ namun juga tidak mampu merasakan keseluruhan nada emosional dari situasi impersonal, menyumbang pada impresi kepribadian bahwa mereka kaku atau dingin. Oleh karena kompulsif fokus pada rincian di dalam komunikasi dan gagal utuh menilai atmosfer interpersonal, mereka tidak bisa bersantai atau spontan atau empatik. Shapiro juga menghubungkan level perhatian kompulsif pada kekurangan intuisi mereka, tidak ada bahwa mereka jarang berfirasat. Akhirnya, sang kompulsif keras melawan apresiasi estetik dari sastra atau seni. Level perhatian kerja di dalam konjungsinya dengan pertahanan isolasi emosional, contohnya, membuat mereka merasa masa bodoh atas tragedi atau drama manusia lainnya. Kalau saja elsa bisa menilai atmosfer ruang kelas mereka, dia akan menanggapi umpan balik murid dan tidak akan duduk di pusat bimbingan.

Faktanya, tidak peka akan ketidakpekaan mereka pada nuansa emosional, sang kompulsif gagal menyadari bahwa kehidupan emosional orang lain jauh lebih kaya daripada dirinya sendiri. Banyak orang akan iba pada imersi sang kompulsif yang asing terhadap kesegeraan akan perasaan yang benar-benar hidup, banyak kompulsif tidak mampu memandang-ke-dalam pemiskinan kehidupan mereka. Sebaliknya, mereka membersihkan dan men-dehumanisasi keberadaan mereka dengan mengatur pemikiran mereka secara kaku sesuai dengan aturan dan regulasi konvensional, jadwal formal, dan hierarki sosial. Beberapa di antaranya melakukan hal seperti itu dengan sikap merendahkan diri dan hina, menganggap orang lain tidak teratur, tidak efisien, dan primitif. Tipe-tipe seperti itu muncul di pengaturan birokratis, di mana hasrat mereka akan spesifisitas dan rincian bisa dipakai sebagai senjata melawan siapa saja yang menghalangi mereka, mereka pun diacuhkan, atau agak terlalu tega. Dengan merumitkan hidup orang lain, sang kompulsif membendung kemarahan bagian dalam mereka seraya membenarkan perilaku mereka sesuai aturan keorganisasian.

Para kompulsif lain nampaknya sesuai untuk mengatur dan merinci hampir semua sebagai pertahanan kognitif melawan ketidakpastian dan kemenduaan. Tidak seperti varietas sadistik sebelumnya, mereka lebih tunduk dan takut akan kemurkaan, memiliki kebutuhan yang intens agar pasti. Perilaku kompulsif seperti itu begitu takut berbuat salah, melarang diri mereka sendiri pada situasi yang akrab dan intim. Mereka menghindari hal berbahaya dengan mempertahankan pendekatan hidup yang ketat dan teratur. Rutinitas yang sama memperbolehkan mereka bermain aman namun mencegah mereka dari pengembangan persepsi atau pendekatan baru penyelesaian masalah.

Individu seperti itu biasanya bimbang, terus menerus mencari sumber informasi, saran, dan opini otoritatif sebelum memutuskan. Sering, pencarian mereka meninggalkan penilaian mereka dilimpahi ratusan rincian yang mereka rasakan tidak mampu menggabungkan secara konklusif. Selamanya terteror dan tertekan, mereka mungkin terperosok di dalam suatu kelumpuhan analisa yang sama sekali mencegah mereka mengambil keputusan. Efeknya, mereka terperangkap di dalam lingkaran setan pengolahan-informasi: makin banyak rincian yang mereka kumpulkan, makin banyak fakta yang gagal dipahami atas suatu kajian aksi tertentu atau konklusi, dan kecemasan mereka pun meningkat. Solusinya adalah menggandakan kembali usaha mereka dan mengumpulkan lebih banyak rincian.

Sebaliknya, perintah moral yang memerintah pengalaman mereka diberdayakan dan diatur beberapa kesalahan kognitif kunci. Mungkin, sang kompulsif memandang dunia secara hitam-putih. Pernyataan ‘mesti’ mereka menetapkan kemutlakan tidak layak di dalam situasi tertentu, kemampuan personal, atau ketersediaan sumber daya. Sebaliknya, sang kompulsif diperintah komandemen yang disarikan dari superego yang mahakuat: “anda tidak akan pernah gagal. Anda akan selalu terkontrol. Anda tidak terjebak kesalahan, sekecil apapun,” dll. Mempertimbangkan dikotomi mereka, pandangan moralistik akan dunia, tidaklah mengejutkan bahwa konsekuensi menyakiti satu komandemen ini saja adalah kotor, bahkan bencana. Sang kompulsif tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan; mereka harus melakukan apa yang semestinya, di setiap kasus. Hasilnya, hidup memang hanya punya sedikit potensi untuk sedikit kebahagiaan dan amat berpotensi untuk cemas. Banyak dari kehidupan sang kompulsif terbuang di masa lalu dan di masa depan, hilang pemahaman atas apa yang mesti mereka lakukan kepada orang tertentu atau situasi, atau apa yang telah mereka lakukan akan menghilang. Kadang-kadang kungkungan keinginan mereka bisa membuat mereka nampak tidak menarik. Hanya kadang-kadang mereka berpusat di saat sekarang, rumah bagi mereka yang gembira dan keakraban hidup.

d)     Interpersonal

Kita bisa simpulkan bahwa sang kompulsif begitu mengekang interaksi interpersonal mereka. Orang normal mampu melakukan spontanitas, sang kompulsif secara aktif mengawasi tingkah laku dan pesan mereka sendiri. Komunikasi mereka mungkin nampaknya didahului kekakuan kartu pencatatan, mungkin dengan sedikit melihat ini: pertama, memformulasikan rencana interpersonal. Kedua, memeriksa rencana secara teliti demi menghindari pemborosan dalam ketepatan dan kematangan, mengadopsi permulaan yang rendah untuk menghilangkan kemungkinan perilaku sehingga dapat melenyapkan segala kemungkinan penghinaan atau ketidakmampuan. Ketiga, memformulasikan perilaku yang baru jika perlu, dan memeriksa sebelumnya. Keempat, memerankan perilaku terpilih, mengukur reaksi orang lain, dan kembali ke langkah pertama. Kekakuan meningkat ketika partisipan lain di dalam transaksi punya tingkat atau status tertentu yang meluas yaitu sang kompulsif sehingga pentingnya penyensoran kesalahan pun meningkat.

Proses kompulsif interpersonal mensyaratkan bahwa mereka menginvestasikan banyak waktu dan energi untuknya. Untuk alasan ini, sang kompulsif sering dilihat orang lain begitu kaku, muram, atau bahkan cemberut. Walau mereka amat sopan, ini mengalir dari hasrat mereka untuk mengikuti kesepakatan sosial, bukan dari keinginan terdalam. Postur dan gerak mereka mungkin nampak ketat dan terkontrol. Kata-kata mereka cermat dipilih agar akurat dan obyektif. Apapun topik percakapan, sang kompulsif lebih suka tetap mempertahankan jarak dan impersonal, merendahkan penilaian subyektif atau opini demi menerima kecerdasan atau formulasi abstrak yang tidak mengungkapkan apapun bagi mereka sendiri. Mereka mungkin bicara dengan tata cara yang impersonal dan jumawa daripada memahamkan komentar mereka, menaikkannya sampai ke level peraturan. Contohnya, seorang kompulsif mungkin berkata, “seorang seringkali menemukan dalam hidup bahwa pengalaman salah satu guru terbaik,” bukan berkata, “anda membuat kesalahan, pelajari apa yang anda bisa, dan selanjutnya.” Untuk alasan ini, impresi interpersonal mereka adalah salah satu dari kesopanan, formalitas, dan kekangan.

Dinamika kepribadian kompulsif bagian dalam terutama dibuat jelas ketika membedakan arahan interpersonal mereka dengan atasan dan bawahan. Memberikan kesadaran dan keasyikan mereka dengan rincian, efisiensi, dan kesempurnaan, sang kompulsif membuat baik ‘pria dan perempuan organisasi,’ mengadopsi kebutuhan dan tujuan bisnis sesuai keinginannya sendiri, nyaris menjadi bagian dari superego mereka sendiri. Mayoritas berhubungan dengan orang lain berdasarkan tingkat atau status. Mereka menyanjung, bahkan memuja, atasan mereka, namun otoriter atau tiran terhadap bawahan. Dengan mempersekutukan diri mereka sendiri dengan orang lain yang berkuasa, sang kompulsif menikmati serangkaian perlindungan dan secara tidak langsung mendapatkan mantel kekuatan dan penghormatan. Pada waktu bersamaan, mereka memakai posisi kekuasaan mereka untuk menyebarkan ketakutan kepada bawahan mereka, ketakutan sama yang mereka alami sendiri ketika ‘dipanggil di atas karpet’ di hadapan orang lain yang lebih berkuasa. Untuk mengekang permusuhan tertekan mereka, sang kompulsif mungkin mengantagoniskan pekerja mereka dengan peraturan, regulasi, tata cara, dan konformitas sesuai dengan deskripsi kerja.

 

          12.  Gangguan Kepribadian Negative

 

Terdapat dua konsep utama dalam gangguan ini Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif kondisi kroni di mana seseorang tampaknya secara aktif sesuai dengan keinginan dan kebutuhan orang lain, tetapi sebenarnya secara pasif melawan mereka. Dalam proses, orang menjadi semakin bermusuhan dan marah. Orang dengan gangguan kepribadian pasif-agresif ditandai oleh obstruksionisme (senang menghalang-halangi), menunda-nunda, sikap keras kepala dan tidak efisien. Perilaku tersebut adalah manifestasi dari agresi yang mendasari, yang diekspresikan secara pasif. Pasien gangguan kepribadian pasif-agresif secara karakteristik adalah suka menunda-nunda, tidak menerima permintaan untuk kinerja yang optimal, tidak bersedia meminta maaf, dan cenderung untuk mencari kesalahan pada diri orang lain walaupun pada orang tempat mereka bergantung; tetapi mereka menolak untuk melepaskan mereka sendiri dari hubungan ketergantungan. Mereka biasanya tidak memiliki ketegasan tentang kebutuhan dan harapan mereka. Orang dengan gangguan ini tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri dan biasanya pesimistik akan masa depan.

Mereka memendam rasa amarah dan permusuhan yang diekspresikan dengan cara tidak langsung tapi menggunakan cara yang menyakitkan. Tidak sensitif terhadap kritik dan selalu menganggap dirinya benar. Dari sudut kognitif-behavioral, pasif-agresif berkembang dari kepercayaan bahwa ekspresi terbuka dan kemarahan adalah berbahaya. Menuntut orang lain harus tahu apa yang diinginkan, tanpa ia memintanya. Orang dengan kelainan ini membenci tanggung jawab yang ditunjukkan melalui perilaku mereka, daripada oleh secara terbuka mengungkapkan perasaan mereka. Mereka sering menggunakan penundaan, inefisiensi, dan lupa untuk menghindari melakukan apa yang mereka perlu lakukan atau telah diberitahu oleh orang lain untuk melakukannya.

Perspektif Psikososial Mengenai Passive Aggressive Disorder

a.     Psikoanalisa
Gambaran psychoddinamic dari orang pasif-agresif dapat ditelusuri dari tahap pemuasan oral, dimana basic trust dibangun.

b.     Behavior
Individu dengan gangguan ini seringnya dibesarkan di keluarga dengan pola asuh yang tidak konsisten dan pelatihan yang bertolak belakang (ucapan dan perbuatan orang tua tidak seimabang, contoh:: melarang anak merokok padahal dirinya sendiri merokok di depan anak). Hal ini membuat orang pasif-agresif tidak dapat mempercayai lingkungannya.

c.      Cognitive
Secara kognitif, orang pasif-agresif selalu berpikir curiga dan sinis, sangat kaku, dan selalu berpikir hitam-putih.

d.     Interpersonal
Secara interpersonal, orang dengan tipe ini seringnya sangat focus pada pemberian reward dan sangat cemburu bila terdapat ketidak adilan dalam pembagiannya.

 

       13.  Gangguan Kepribadian Melankolis

 

Melankolis dalam bahasa Inggris melancholies (mel-an-chol-ies) dengan kata benda mel-an-chol-y, dan plural melancholies sebagai kata sifat. Sebagai kata benda mempunyai arti : Pandangan hidup yang muram, tekanan dan cenderung mempunyai kebiasaan diperpanjang, murah hati, keprihatinan, kuno. Sebagai kata sifat melankolis diartikan dihinggapi penyakit, ditandai kemurungan jiwa, tertekan; sadar, penuh pengertian, merenung. (dictionary.com) Dalam kamus besar bahasa Indonesia, melankolis adalah kata sifat yang menjelaskan keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu, sedih, muram. Menurut pengalaman hidup penulis yang memiliki kepribadian melankolis, dan pengamatan terhadap beberapa teman yang berkepribadian melankolis, ciri-ciri melankolis tersebut di atas memang ada. Selama tidak memahami kepribadian sendiri, penulis telah mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain yang mempunyai kepribadian berbeda. Contohnya: benda-benda di rumah, jika telah digunakan harus diletakkan kembali pada tempat asalnya, ketika suami atau anak anak penulis tidak mengembalikan benda tersebut pada tempat asalnya akan sangat mengganggu ketenangan penulis dan rasa kesal.

Dalam mengerjakan pekerjaan, jika suatu rencana telah ditetapkan, penulis akan mengerjakannya dengan tekun walaupun kadangkadang merasa bosan karena jangka waktu yang panjang. Dalam hal ketekunan, menurut pengamatan penulis terhadap beberapa teman yang berkepribadian melankolis, ditemukan mereka mempunyai kebiasaan lari atau jalan pagi yang telah berlangsung selama 15 – 20 tahun guna memelihara kesehatan. Selain itu, Penulis juga sangat mudah tertekan oleh kebisingan dan kekacauan di sekitar penulis, dan juga laporan-laporan di surat kabar, televisi tentang kekerasan dalam keluarga maupun masyarakat. Warna yang disenangi penulis juga cenderung kelabu, seperti abu, hitam, biru, coklat yang menunjukkan kemurungan atau tenang. Penulis jarang menggunakan warna kuning yang terang yang menunjukkan hangat dan kegembiraan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Davidson, Gerald C., John M. Neale, & Ann M. Kring. 2004. Abnormal Psychology (9th Edition). US: john wiley & sons, inc.

Millon, Theodore, Seth G., Carrie M., Sarah M., & Rowena R. 2004. Personality Disorder In Modern Life. US: john wiley & sons, inc.

Nevid, J., Rahtus S., & Beverly G. 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Wiramihardja, Sutardjo A. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT Refika Aditama.

Ardi Ardani, Tristiadi, dkk. (2007). Psikologi Klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Durand, Mark dan David H. Barlow. (2006). Intisari Psikologi Abnormal. Yogyakarta: Pustala Pelajar.

Kaplan & Saddock. (1997). Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi ke-7, jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara.

Maslim, Rusdi. (2001). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: PT.Nuh Jaya.

Supratiknya, A. (1995). Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius

Sutardjo. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Bandung: Refika Aditama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Personologi Millon

 

Atas: Theodore Millon, Ph.D

Kemarin ini saya dapat informasi dari dosen pembimbing saya bahwa HIMPSI mengadakan acara diskusi ilmiah tentang Personologi Millon, pembicaranya Kang Eppy. Kebetulan saya pernah membaca sedikit tentang buku yang ditulis oleh Theodore Millon, jadi saya tertarik untuk mengikuti acara tersebut (acaranya hari Sabtu 12 November, jam 9 pagi).

Acaranya diadakan di Universitas Nurtanio. Agak aneh juga, acara diskusi psikologi kok diadakan di kampus yang identik dengan penerbangan? Belakangan panitia menjelaskan bahwa untuk menghemat biaya, mereka mencari tempat yang gratisan… haha. Cukup bisa diterima deh alasannya, lagipula ruangannya juga sangat bagus untuk diskusi.

Waktu saya tiba di sana, saya menemui beberapa orang dari biro psikologi yang saya kenal (kebetulan besoknya saya bekerja menjadi tester untuk biro tersebut). Narasumbernya, kang Eppy sudah ada di tempat dan nampaknya sudah siap untuk memulai kegiatan. Ada juga beberapa psikolog serta beberapa mahasiswa UNISBA. Sayangnya, saya tidak menjumpai satu pun mahasiswa dari almamater saya. Padahal acara diskusi seperti ini sangat bermanfaat untuk memperluas pengetahuan. Biar bagaimanapun juga, apa yang diajarkan di kampus itu pasti selalu lebih ketinggalan jaman dibandingkan dengan yang digunakan di praktik nyata. Mereka ini tidak datang karena kurang informasi atau malas? Mudah-mudahan bukan yang kedua.

Penjelasan teori kepribadian dari Millon ini sangat rumit, kebanyakan baru mulai dipakai di tingkat S2 dan tidak semua psikolog suka menggunakannya. Pasalnya, konsep teorinya sangat kental dengan setting psikologi klinis. Dari ekspresi wajah peserta diskusi, nampaknya memang materi ini cukup berat sehingga kita semua harus berkonsentrasi penuh terhadap “kuliah” yang disampaikan oleh narasumber.

Untuk yang belum tahu, Theodore Millon adalah psikolog yang terkenal dengan karya-karyanya dalam bidang personality disorders. Konsepnya cukup rumit, jadi sebaiknya tidak dipelajari dulu oleh pemula atau oleh orang-orang psikologi yang belum menguasai benar konsep psikodinamika. Oh ya, ini link ringkasan konsepnya: http://www.millon.net/taxonomy/summary.htm

Siapa tahu berguna untuk yang benar-benar ingin mendalami psikologi yang benar-benar klinis.

 

1 Komentar (+add yours?)

  1. odasamodra
    Feb 25, 2013 @ 13:55:33

    ini buat tugas metodik tes 1 saya pada semester 6

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

musik player

kalender ODA

Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Statistik Blog

  • 33,662 hits
%d blogger menyukai ini: