AKULTURASI DAN KONTAK BUDAYA ( PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA )


AKULTURASI DAN KONTAK BUDAYA

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

 

[ U M S ]

 

Disusun Oleh :

  1. Haratul Anisza                           F 100 080 117
  2. Samodra Kharisma A S             F 100 100 051
  3.  Lis Uswatun M.F                      F 100 100 166
  4.  Aroasih tri Naimah                    F 100 100 193
  5.  Su’ad Jauharoh                         F 100 100 210

 

 

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2012

 

 

Akulturasi dan Kontak Budaya

Akulturasi merupakan suatu proses yang individu ikuti (biasa pada masa kehidupan kemudian) dengan merespon suatu konteks budaya yang berubah. Akulturasi merupakan satu anteseden tersimpulkan dari keberagaman yang teramati dalam perilaku. Akulturasi hanya satu bentuk perubahan budaya, yaitu disebabkan kontak dengan budaya-budaya lain (konteks sosiologis). Pada prakteknya, kadang sulit memisahkan sebab-sebab aktual perubahan yang disebabkan kekuatan eksternal dari yang disebabkan kekuatan internal. Karena banyak faktor biasa bekerja bersama-sama, termasuk kontak, difusi, dan inovasi dari dalam kelompok budaya.

A. Akulturasi

Menurut Herskovitz (1939) akulturasi dipahami sebagai fenomena yang akan terjadi tatkala kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya berbeda terlibat dalam kontak yang berlangsung secara tangan pertama (langsung), disertai perubahan terus-menerus, sejalan pola-pola budaya asal dari kelompok itu atau dari kedua kelompok itu. Akulturasi dibedakan  dari perubahan budaya yang hanya merupakan salah satu aspeknya, dan asimilasi yang pada saat tertentu merupakan suatu fase akulturasi. Akulturasi juga dibedakan dari difusi yang pada saat sama berlangsung dalam semua contoh akulturasi, tidak hanya sebagai suatu fenomena yang kadang mengambil tempat tanpa tipe kontak antara orang yang dikhususkan dalam difinisi di atas, tetapi juga membangun hanya satu aspek proses akulturasi.

Dalam psikologis lintas-budaya, penting mmbedakan antara akulturasi pada aras kelompok dan pada aras individu. Terdapat dua alasan dalam membedakan fenomena tersebut, yang pertama pada aras populasi perubahan dalam struktur sosial, landasan ekonomi, dan organisasi politik, kadang terjadi. Sementara pada aras individual, perubahan-perubahan terjadi pada fenomena semacam jatidiri, nilai, dan sikap. Alasan kedua, tidak setiap individu yang beraktualisasi berpartisipasi dalam perubahan-perubahan kolektif yang sedang berlangsung untuk banyak hal atau dalam cara yang sama. Jadi, jika kita suatu ketika ingin memahami hubungan antara kontak budaya dan keluaran psikologis untuk individu-individu, kita perlu menaksir (dengan menggunakan pengukuran terpisah) perubahan pada aras populasi dan partisipasi individu dalam perubahan-perubahan ini, kemudian menghubungkan dua pengukuran itu ke konsekuensi-konsekuensi psikologis untuk individu.

Beberapa unsur yang biasa dikaji dalam psikologi lintas-budaya adalah:

  1. Ada kebutuhan melakukan kontak atau interaksi yang terus-menerus dan berhadap-hadapan langsung antara budaya-budaya itu.
  2. Akibat-akibatnya berupa beberapa perubahan dalam fenomena budaya atau psikologis diantara orang-orang dalam kontak, biasa berlanjut untuk generasi-generasi berikut.
  3. Dengan mengangkat kedua aspek itu bersama-sama, kita dapat membedakan antara suatu proses dan kedudukan ada aktivitas dinamis selama dan sesudah kontak dan ada suatu hasil proses yang mungkin relatif stabil.

Sistem akulturasi umum di mana ada dua budaya dalam kontak. Dilihat dari asasnya, setiap budaya dapat mempengaruhi budaya lainnya secara sama, tetapi dalam praktek, budaya yang satu cenderung menguasai budaya lain, yang akhirnya menggiring ke arah pembedaan antara “kelompok dominan” dan “kelompok berakulturasi”. Dengan ini, tak lantas dapat dikatakan, perubahan-perubahan dalam budaya dominan tidak menarik atau tidak penting: akulturasi kadang mengakibatkan perluassan populasi, makin beragamnya budaya, menimbulkan reaksi-reaksi sikap (prasangka dan diskriminasi), dan perkembangan kebijakan (misal, dalam daerah imigrasi, pluralisme budaya, kedwibahasaan, dan persekolahan). Satu akibat kontak dan pengaruh itu, aspek-aspek kelompok yang berakulturasi menjadi tertransformasikan sedemikian rupa sehingga ciri-ciri budaya menjadi tidak sepadan dengan ciri-ciri dalam kelompok asal pada saat pertama kali kontak.

beberapa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya suatu proses Akulturasi. Diantaranya:

Faktor Intern (dalam), antara lain:

  1. Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
  2. Adanya Penemuan Baru:

-           Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada

-          Invention : penyempurnaan penemuan baru dan

-          Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat

  1. Konflik yang terjadii dalam masyarakat
  2. Pemberontakan atau revolusi

Faktor Ekstern (luar), antara lain:

  1. Perubahan alam
  2. Peperangan
  3. Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi)

Beberapa faktor pendorong perubahan sosial:

  1. Sikap menghargai hasil karya orang lain
  2. Keinginan untuk maju
  3. System pendidikan yang maju
  4. Toleransi terhadap perubahan
  5. System pelapisan yang terbuka
  6. Penduduk yang heterogen
  7. Ketidak puasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
  8. Orientasi ke masa depan
  9. Sikap mudah menerima hal baru

Daur perubahan yang terjadi dari akulturasi sangat labil dan tergantung pada banyak karakteristik kelompok dominan dan nirdominan. Untuk kedua kelompok, penting mengetahui tujuan, lama, dan menetapnya kontak, dan kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Ciri-ciri psikologis dan budaya dua populasi dapat juga berakibat pada keluaran proses akulturasi.

Masuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi. Akulturasi merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Budha yang masuk di Indonesia tidak diterima begitu saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:

  1. 1.Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.
  2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia.

Akulturasi merupakan suatu proses yang mengambil tempat dari waktu ke waktu dan hasil-hasil perubahannya dalam perilaku dan dalam individunya. Pengukuran perubahan antara dua pokok atau lebih dalam suatu waktu merupakan topik yang memiliki literatur yang dapat dipertimbangkan dalam psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan, tetapi tidak banyak berkaitan dengan antropologi atau psikologi lintas-budaya. Kekurangan ini ditandai dalam antropologi dengan suatu volume untuk menyelenggarakan kerja lapangan berjangka panjang dan berkelanjutan (Foster, Scudder, Colson & Kemper, 1978).

Contoh akulturasi Indonesia- Hindu/buddha adalah masuknya epos ramayana atau mahabarata dalam cerita wayang. Contoh lain adalah adanya beberapa arsitektur candi dalam bangunan keagamaan di Indonesia. Contoh akulturasi Indonesia-Islam adalah mesuknya sastra dan kesustraan Arab dalam kesustraan Indonesia. Contoh lain adalah masuknya unsur arsitektur masjid dari Timur Tengah yang melengkapi bangunan keagamaan di Indonesia.

Wujud akulturasi budaya meliputi :

1. Bahasa

Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat Anda temukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia.

Untuk mengukur tingkat pemahaman Anda, silakan tulis 5 kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta, selanjutnya Anda simak uraian materi selanjutnya.

Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu – Budha pada abad 5 – 7 M, contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 – 13 M. Untuk aksara, dapat dibuktikan adanya penggunaan huruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi) dan huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui Prasasti Dinoyo (Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno.

2.Religi/Kepercayaan

Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme. Anda masih ingat pengertian Animisme dan Dinamisme? Bila Anda lupa, baca kembali modul ke-2 Anda!

Dengan masuknya agama Hindu – Budha ke Indonesia, masyarakat Indonesia mulai menganut/mempercayai agama-agama tersebut. Agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain mengalami Sinkritisme. Tentu Anda bertanya apa yang dimaksud dengan Sinkritisme? Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu. Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan agama Hindu – Budha yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaaan-perbedaan tersebut dapat Anda lihat dalam upacara ritual yang diadakan oleh umat Hindu atau Budha yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di India.

3.Organisasi Sosial Kemasyarakatan

Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat Anda lihat dalam organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh India.

Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun temurun.

Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah di Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan R Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harhari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).

Pemerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti yang terjadi di kerajaan Majapahit, pada waktu pengangkatan Wikramawardana.Wujud akulturasi di samping terlihat dalam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.

Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu terdiri dari kasta Brahmana (golongan Pendeta), kasta Ksatria (golongan Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang) dan kasta Sudra (golongan rakyat jelata).

Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama persis dengan kasta-kasta yang ada di India karena kasta India benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian, karena di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.

4.Sistem Pengetahuan

Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu perhitungan waktu berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu. Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun sebagai contoh misalnya tahun saka 654, maka tahun masehinya 654 + 78 = 732 M.

5.Peralatan Hidup dan Teknologi

Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India, karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.

Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak, yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut. Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dewi Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka.

Di samping itu, dalam bahasa kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya yang dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.

Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan terhadap dewa Syiwa.

6.Kesenian

Wujud akulturasi dalam bidang kesenian terlihat dari seni rupa, seni sastra dan seni pertunjukan . Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi tersebut banyak menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama Hindu ataupun Budha.

B. Kontak dan partisipasi

Persoalan inti disini ialah sejauh mana individu tertentu telah mengikatkan diri dalam proses akulturasi. Beberapa individu sangat terlibat, sementara yang lain cukup tak terlibat dalam proses ini. Sejumlah indikator boleh jadi dicari dari berbagai sumber (individu, informan, atau pengamatan langsung). Beberapa indikator ini ialah tingkat pendidikan formal, partisipasi dalam kerja yang diupah, keluasan urbanisasi, penggunaan media massa, partisipasi politik, dan perubahan keagamaan, bahasa, praktek sehari-hari, dan hubungan sosial. Sejumlah ubahan mungkin saling berkaitan (szapocznik, Scopetta, & Kurtines, 1978). Jadi, kita menemukan dalam literatur usaha-usaha untuk mengembangkan skala atau indeks kontak dan partisipasi yang menyatu lintas berbagai pengalaman.

Suatu Indeks Kontak (de Lacey, 1970) telah dikembangkan sebagai indeks umum untuk anak-anak Aboringin Australia di masyarakat kulit putih Australia. Indeks terdiri dari dua seksi yaitu ubahan-ubahan terpadu (exposure variables) dan ubahan-ubahan adaptasi (adaptation variables). Skala kontak lain (Berry dkk, 1986b) dikembangkan untuk penggunaan di Afrika Tengah dengan para penghuni Biaka Pigmy dan Bangandu. Indeks terdiri dari delapan ubahan: jumlah bahasa lokal yang depercakapkan, pengetahuan tentang Perancis, pengetahuan tentang bahasa Sango, pemilikan, jenis pekerjaan dan teknologi, agama, adopsi pakaian, dan perjalanan.

Bentuk-bentuk dari kontak kebudayaan yang menimbulkan proses akulturasi antara lain:

1) Kontak dapat terjadi antara seluruh masyarakat seluruh masyarakat atau antara bagian-bagian saja dalam masyarakat, dapat juga terjadi antara antara individu-individu dari dua kelumpok.

2) Kontak dapat pula diklasifikasikan antara golongan yang bersahabat dan golongan yang bermusuhan.

3) Kontak dapat pula timbul antara masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang dikuasai secara politik atau ekonomi.

4) Kotak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang:

a) sama besarnya

b) berbeda besarnya

5) kontak kebudayaan dapat terjadi antara aspek-aspek materiil dan yang non materiil dari kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang kompleks dan antara kebudayaan yang kompleks pula.

C. Sikap terhadap akulturasi

Tiga pendekatan berbeda yang dianut selama kontak budaya yang tampak dalam literatur: relasi antarkelompok, modernitas psikologis, dan sikap akulturasi. Sikap individu yang berakulturasi terhadap masyarakat dominan akan memiliki beberapa kaitan dengan cara ia masuk ke dalam proses akulturasi. Jika sikap-sikap kelompok sendiri sangat positif dan sikap kelompok luar sangat negatif, maka pengaruh akulturasi mungkin sudah tersaring, tertahan, tertolak atau apa saja yang dapat ditafsirkan sebagai kurang efektif. Dipihak lain, jika pola sikap yang berlawanan cocok di antara individu-individu yang mengalami akulturasi maka pengaruh-pengaruh akulturatif mungkin lebih dapat diterima.

Cara-cara individu atau kelompok yang sedang berakulturasi ingin berhubungan deengan masyarakat dominan diistilahkan dengan strategi-strategi akulturasi. Strategi-strategi itu secara konseptual merupakan hasil suatu interaksi antara gagasan yang diturunkan dari literatur perubahan budaya dan literatur tentang hubungan antarkelompok. Yang pertama, persoalan inti mengenai derajat yang memungkinkan orang menginginkan tinggal secara budaya ketika telah merangkul budaya itu bila dilawankan dengan keadaan berhenti menjadi bagian dari budaya yang lebih besar. Yang kedua, persoalan intinya, sejauh mana seseorang ingin menjalin interaksi sehari-hari dengan anggota kelompok lain dalam masyarakat yang lebih besar ketika dilawankan dengan menjauh dari kelompok lain dan hanya berhubungan dengan kelompok sendiri.

Ketika seorang individu yang mengalami akulturasi tidak memelihara budaya dan jati diri dan melakukan interaksi sehari-hari dengan masyarakat dominan, maka jalur atau strategi asimilasi didefinisikan. Kalau ada suatu nilai yang ditempatkan pada pengukuran budaya asal seseorang dan suatu kenginan menghindari interaksi dengan orang lain, maka alternatif separasi didefinisikan. Kalau ada suatu minat dalam kedua-duanya baik memelihara budaya asal dan melakukan interaksi dengan orang lain, integrasi opsinya.

Menurut Triandis dkk, ada suatu gerakan kelompok yang sedang beraktualisasi terhadap masyarakat dominan (akomodasi) gerakan berkelanjutan yang mengekor masyarakat dominan (overshoting) atau gerakan menjauh darinya (afirmasi etnik).

D. Perubahan perilaku

Stres akulturasi dicirikan dengan suatu perubahan kualitatif dalam kehidupan individu atau komunitas. Terlepas dari itu semua, angka kematian, agresi, dan penolakan, hadir, dalam kebanyakan masyarakat yang mula-mula mengalami akulturasi, tetapi kita sering menjumpai bentuk-bentuk baru sebagaimana angka-angka baru sehinggan senderung dianggap menyimpang dan diberi sanksi negatif ketimbang di kelompok yang menganggapnya sebagai umum.

E. Stres akulturasi

            Konsep stres akulturatif mengacu ke satu macam stres yang stresornya diketahui bersumber dalam proses-proses akulturasi. Sebagai tambahan, sering ada serangkaian perilaku stres khusus selama akulturasi, seperti penurunan status kesehatan mental (terutama kecemasan, depresi), perasaan marjinalitas dan ahensi, aras simtom psikomatis meningkat, dan kebingungan jati diri. Jadi, stres akulturatif suatu fenomena yang mungkin mendasari suatu reduksi dalam status kesehatan individu (aspek fisik, psikologis, dan sosial). Untuk mengakualifikasikannya sebagai sres akulturatif, perubahan ini mesti depertalikan dalam cara sistematik untuk diketahui ciri-ciri proses akulturasinya sabagai dialami individu.

            Akulturasi terjadi dalam suatu situasi khusus (contoh komunitas imigran atau penduduk asli) dan individu berpartisipasi dan mengalami perubahan-perubahan ini dalam derajat beragam. Stresor diakibatkan pengalaman akulturasi yang beragam. Stres akulturatif yang beragam mungkin mengejawantah sebagai akibat pengalaman akulturasi dan stresor.

DAFTAR PUSTAKA

 

Alfia Nazwa, 2008, “Wujud Akulturasi Kebudayaan Hindu-Budha dengan Kebudayaan Indonesia”, http://3gplus.wordpress.com/2008/04/09/wujud-akulturasi-kebudayaan-hindu-budha-dengan-kebudayaan-indonesia/ , di unduh 8 April 2012

Budaya Indonesia hasil Akulturasi Budaya Hindu-Budhadan Islam, 08/03/2011 pada5:56pm,(Uncategorized)http://pardedejabijabi.wordpress.com/2011/03/08/budaya-indonesia-hasil-akulturasi-budaya-hindu-budhadan-islam/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

musik player

kalender ODA

Oktober 2012
S S R K J S M
    Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 13,162 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 930 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: